html xmlns="http://www.w3.org/1999/xhtml" xml:lang="en" lang="en">

Workshop Sahabat Silat

3098474036_5450d012ac_o
Jejak Kaki Lembah Lawe

Wednesday, April 22, 2009

Liputan TV FRANCE

Laporn Kegiatan
By silatindonesia.com



Pagi itu Jum’at 17 Aril 2009, waktu sudah lewat jam setengah delapan. Berdasarkan janji dari sms yang dikirim Bang Ochid dan Bang Ajad, hari ini kami harus berkumpul di gedung Hidro jam setegah sembilan untuk mengantarkan dua orang tamu Sahabat Silat dari sebuah stasiun televisi Perancis, Singh dan Lionel yang akan meliput maenpo Cikalong di tempat asalnya Cianjur. Begitu mepetnya waktu pagi itu dan karena takut ketinggalan kutelpon lebih dahulu kang Wiwit yang biasanya paling on-time untuk sekedar memberi kabar jangan sampai ditinggalkan jika terlambat barang sepuluh lima belas menit. Maklum jika dalam rombongan perjalanan yang menjadi “kepala suku” adalah bang Ajad, maka kawan yang satu ini akan dengan tegaan meninggalkan yang terlambat.



Setelah merapikan semua persiapan dan meminta “exit permit” ke sang istri tercinta, jam delapan pas dengan motor bebek dekil kesayangan yang mulai butut kupaksakan ngebut melibas jalan yang mulai agak lengang. Belum sampai dua kilo perjalanan dari rumah, ahhhh kameraku ketinggalan….dengan terpaksa dan dongkol ku kembali ke rumah. Waktu yang tinggal sedikit memaksa kembali menelpon kang Wiwit untuk setidaknya meminta atau sedikit merayu bang Ajad atau bang Ochid jika sampai aku tak sampai tepat waktu. Sepanjang perjalanan menuju ke Cawang, terlintas ingatan beberapa obrolan dengan kedua tamu kita dari Perancis tersebut. Setelah dua kali pertemuan dengan mereka baik di tempat latihan Beksi Tradisional Haji Hasbullah, di Kebagusan yang tak jauh dari rumahku atau di rumah guru Perguruan Gerak Saka bapak Muhammad Sani, jalan H.Jamhur II – Ciganjur mengenai pencak silat itu sendiri, keduanya selalu bilang bahwa orang Indonesia sangat ramah dan beruntung memiliki kakayaan seni bela diri yang begitu beragam dan unik. Kadang dalam pikiran ini juga sebenarnya antara takut dan khawatir jika penerimaan kita tak sebaik yang mereka bayangkan. Namun dengan beberapa kali pertemuan baik dari awal dengan Silek Harimau, Beksi Tradisional H. Hasbullah, Gerak Saka dan Golok Suliwa ternyata alhamdulillah semuanya selalu memberikan kejutan bagi mereka….Beruntung sepanjang jalan Lenteng Agung dan Pasar Minggu tidak terlalu padat, meski di beberapa perempatan jalan ada sedikit tersendat sehingga dengan motor bebek kesayanganku dapat dengan leluasa melenggang sampai di gedung Hidro-Cawang dengan keterlambatan waktu tak lebih dari tujuh menit.



Ternyata kedua “kepala suku” untuk perjalanan ke Cianjur belum muncul, beruntung juga saat itu karena Cuma kang Wiwit yang baru hadir. Setelah telpon sana-sini baik ke Uda Alda maupun ke bang Ajad dan Bang Ochid akhirnya mobil yang akan digunakan ke Cianjur tampak!!!! wah … kedua kawan kita ini masih menggunakan seragam dinas instansinya…he he he, mungkin ini yang sering kita dengar antara kegilaan dan kecintaan pada pencak silat begitu tipis. Meski menertawakan segala tingkah dan cara “meminta izin” ke atasannya yang saya tahu itu sebenarnya bukan hal yang lucu, karena dari kedua penuturan baik bang Ochid maupun bang Ajad yang rela “mabur” cuma untuk mengantarkan tamu Sahabat Silat di hari kerja ini di dalam hati secara pribadi saya salut buat kedua kawan kita ini, ternyata pengorbanannya tak sebatas omong semata….

Kamipun meluncur ke arah UKI – Cawang untuk menjemput Singh dan Lionel di Padepokan Pencak Silat Indonesia yang mungkin telah lama menunggu. Kali ini yang membawa mobil adalah bang Ochid, entah antara bingung atau apa rute yang seharusnya lurus ke arah UKI malah berbelok arah kembali ke arah Cililitan….dan kita hanya tertawa ketika bang Ajad yang kita tahu kantornya di BKN rada sewot karena setelah “mabur” eh malah kembali mendekat ke kantornya…



Jam sembilan empat puluh tujuh menit kita berempat sampat di padepokan dan berlima menuju ke arah Cianjur. Kali ini yang membawa mobil adalah bang Ajad yang dengan seragam instansinya mirip supir taksi Citra (sorry bang…) namun begitu biasanya untuk mengejar waktu, abang kita yang satu ini memang mahir dalam kebut-kebutan sehingga tak hanya kita yang mengakui kelihaiannya tapi kedua tamu kita juga mengacungkan jempol untuk bang Ajad . Di kilo meter dua pulu empat tol Jagorawi arah ke Bogor , kita di beritahu untuk bertemu pak Eddie Marzuki Nalapraya di kediamannya di Cipayung oleh Uda Alda. Dan pak Haji Azis Asy’arie pun sedang dalam perjalanan menuju ke sana .



Sepanjang perjalanan yang banyak diisi obrolan ringan dan canda sehingga tak terasa kita sampai di kediaman pak Eddie sekitar jam sepuluh lima puluh lima . Sambutan pak Eddie-pun tak kalah hangatnya dengan sambutan saudara-saudara dari berbagai perguruan, canda tawa, singkong goreng dan kopi hangat menjadi awal pembuka sambutan pak Eddie. Perkenalan, perbincangan seputar pencak silat juga obrolan yang berkaitan dengannya menjadi semakin seru, apalagi menurut Singh, baru kali ini dapat sambutan langsung dari seorang pionir ketua organisasi bela diri dunia atau seorang sesepuh yang menjabat presiden PERSILAT hingga 2008 menyambut dengan hangat dan bersahabat. Malah pak Eddie menawarkan pada Singh dan Lionel untuk bermalam jika pulang dari Cianjur terlalu malam ke Jakarta di tempat kediamannya di Cipayung.



Beberapa saat kemudian pak Haji Azis Asy’arie datang, hingga suasana perbincangan semakin ramai dan hangat. Tak lupa setelah berwawancara dengan pak Eddie, baik Singh maupun Lionel diberikan kesempatan untuk melihat beberapa album foto kegiatan yang pernah diikuti oleh pak Eddie di berbagai manca Negara mempromosikan dan mengembangkan pencak silat. Saat waktu menunjukkan jam sebelas empat puluh menit, dengan dua mobil bersama pak Eddie berangkat menuju masjid terdekat untuk menunaikan ibadah shalat Jum’at sementara kedua tamu, kita persilahkan beristirahat di kamar tamu yang disediakan oleh tuan rumah.



Selesai shalat Jum’at, kami kembali kembali ke rumah pak Eddie yang telah disediakan makan siang….. ada hidangan iga kambing, ayam, sambal, lalap, sayur wah…komplit. Sebelum makan saya sempat bertanya kepada Singh, apakah dia seorang vegetarian atau tidak? Ternyata alhamdulillah dia bukan dan boleh memakan daging (karena sebelumnya kita khawatir jangan-jangan tidak boleh memakan daging karena alasan kepercayaan misalnya) Meski sedang alergiku datang he he he demi menghormati tuan rumah (juga menghormati santapan lezat) makan siang itu kita sikat dengan lahap. Selesai makan pak Eddie menyuguhkan atraksi pencak silat dari perguruan setempat, perguruan pencak silat Paku Bumi yang diasuhnya. Kedua tamu inipun langsung melaksanakan tugas jurnalistiknya, sementara kita melanjutkan obrolan, bang Ochid ikutan mendokumentasikan. Pada jam tiga kurang lima belas, bang Ajad, bang Ochid, saya, kang Wiwit, kedua tamu kita dan pak Haji Azis berpamitan untuk segera melanjutkan perjalanan ke Cianjur. Dan saat melepas pak Eddie tak lupa menawarkan kembali kepada kedua tamu dari Perancis ini untuk bermalam, dan jika setuju tinggal sms saja..



Perjalanan dilanjutkan menuju Puncak, beberapa panorama yang memang indah menarik perhatian kameramen Lionel untuk mengambil beberapa gambar. Atas kesepakatan maka saat di Puncak pass kita berhenti untuk sekedar mengambil beberapa gambar, suasana dan pemandangan. Beberapa pedagang batu cincin menawarkan pada Singh, dengan maksud membantunya saya mencoba memberitahu bahwa tamu Perencis ini tidak akan membeli, eh tukang dagang itu malah berkata, “saya mah tidak menawarkan pada bapak…tapi pada orang itu…” sambil pergi meninggalkan kita wah….??!! Beberapa menit berlalu, pengambilan gambarpun selesai dan kami kembali ke mobil untuk bergegas ke Cianjur yang telah menunggu bapak Wakil Bupati Drs H. Dadang Sufianto MM dan Guru Besar Paguron Maenpo Cikalong Pancer Bumi, pak Haji Ceng Suryana dan para pengurus. Sepanjang jalan Puncak – Cianjur, kedua tamu kita mulai terasa kelelahan dan tertidur. Sementara yang lain tetap meneruskan obrolannya.



Memasuki gerbang Cianjur kita membangunkan kedua tamu kita untk pengambilan gambar gerbang masuk kota Cianjur. Dan tiba di kota Cianjur sekitar jam empat sepuluh menit sebelum menuju tempat latihan, kami mampir terlebih dahulu ke rumah pak haji Azis untuk mengambil baju latihan. Di tempat latihan, semua yang menunggu telah bersiap untuk latihan. Seperti biasa, begitu tamu datang selalu tersedia jamuan berua kue-kue dan minuman hangat. Sehingga membuat tamu terasa betah karena tak dianggap sebagai orang lain. Beberapa kali Singh terlibat perbincangan dengan pak WaBup, pak Dadang dan pak Haji Ceng Suryana. Beberapa kawan dari paguron ikut serta dalam perbincangan yang meambah seru suasana. Sesekali kita menyarankan Lionel atau Singh untuk sekedar “tempelan” tangan dengan pelatih atau guru paguron ini malah dengan WaBup Cianjur yang juga seorang praktisi maenpo Cikalong.



Semakin lama suasana semakin mengasyikan, kedua tamu yang telah menyelesaikan liputannya semakin asyik hanyut “bermain” dengan para guru dan pelatih maenpo Cikalong. Teknik yang didapat semakin membuatnya terkagum-kagum akan pengetahuannya tentang keberagaman pencak silat yang dilihat dan disaksikan langsung. Selepas maghrib semua menunaikan shalat maghrib, dan sekitar jam tujuh kami berpamitan untuk kembali ke Jakarta . Kelelahan yang dirasakan tamu kita dari Perancis membuatnya ingin segera kembali Ke Hotel di Jakarta dan dengan menyesal mereka meminta maaf kepada kita bahwa mereka tak dapat menginap di pak Eddie..kamipun berpamitan kepada para sesepuh paguron, pengurus dan pak WaBup Cianjur untuk kembali ke Jakarta .



Sepanjang perjalanan ke Jakarta , kedua tamu ini bilang sangat disayangkan waktu yang mereka miliki sedikit. Andaikan ada waktu sekitar satu atau dua bulan, mereka akan habiskan waktu untuk belajar pencak silat yang menurut mereka sangat unik. Persaudaraan yang diperlihatkan sangat tulus dan menyenangkan. Menurut mereka inilah makna sesungguhnya dari pelajaran bela diri yang dipelajari, bahwa bela diri sesungguhnya mewarnai persahabatan dalam kehidupan. Inilah yang menarik hati mereka….



Kelelahan membuat tamu kitapun tertidur kembali diperjalanan pulang menuju Jakarta , sekitar satu setengah jam perjalanan membuat perut terasa keroncongan. Bang Ochid, bang Ajad yang kembali menjadi “pilot”, kang Wiwit dan saya saling bertanya makan apa kita kali ini? Tepat di rumah makan Sunda, kami turun dan memesan makanan khas rumah makan ini, dan bang Ochid lah yang bertindak sebagai bos yang membayar semua makanan (he he he ketiban pulung lagi). Dua nasi goreng babat, jus strawberry, empat nasi timbel lengkap plus pete bakar membuat kekhusukan dan kelahapan makan bertambah… dan tamu kitapun disuguhkan nasi timbel lengkap yang juga dimakan dengan lahap he he he nyobain timbel..



Tiba di Jakarta lewat jam sebilan duapuluh malam, mobil begitu keluar tol Cawang dibelokkan ke arah Cililitan untuk mampir ke kantor bang Ajad yang memarkir mobilnya hingga malam dan tinggal mobilnya sendiri yang berada di sana . Kedua tamu kita hanya tertawa dan kagum begitu mendengarkan pengorbanan yang dilakukan para anggota Sahabat Silat untuk mempromosikan pencak silat hingga berani “mabur” dari kerja untuk kegiatan ini. Di deapan kantr BKN Cawang, bang Ajad berpamitan pada semua. Kamipun melanjutkan perjalanan kembali ke gedung Hidro dimana sepeda motor bebek kesayanganku terparkir sampai malam…..



Kamipun berpisah malam itu, sambil menunggu taksi datang Singh dan Lionel sangat berterima kasih atas segala kebaikan dan keramahan yang diterimanya selama liputan juga begitu bersahabatnya semua pesilat yang diperkenalkan kepadanya, sehingga mereka berdua berjanji suatu saat nanti jika mempunyai waktu akan kembali mengunjungi kita ntuk belajar pencak silat…..



Taksipun datang, kami bersalaman dan saling mengucapkan selamat tinggal, semoga apa yang mereka dapat menjadi suatu kenangan baik dihatinya dan menjadikan mereka duta yang menyampaikan pada dunia sana bahwa pencak silat tak hanya melulu sebagai alat perkelahian, pertempuran dan teknik membela diri tapi jauh di dalam sana ada persahabatan, keceriaan, kesediaan saling berbagi dan menghormati yang hanya akan dirasakan jika datang dan merasakannnya….



Untuk liputan Cingkrik Goning dan Gerak Gulung Budi Daya dipersilahkan pada teman-teman lainnya…



Jakarta , 18 April 2009



Iwan Setiawan

Special thank’s : Bapak Eddie Marzuki Nalapraya

Bang Ochid (juragan batik yang baik hati)

Bang Ajad (pembalap SS)

Witarsa (adi sapaguron)



Bapak Sabenuh M dan bang Ali juga perguruan Beksi

Tradisional H. Hasbullah



Bang Nani, kang Didit, mas Agus S, Raka, PS. Gerak Saka



Pak H. Azis Asy’arie, pak H. Ceng Suryana, Kang Ujang Saefuddin, kang Dani, pak Junaidi dan Paguron maenpo Cikalong Pancer Bumi



Wakil Bupati Cianjur Drs. H. Dadang Sofianto MM



Paguron Pencak Silat Paku Bumi – Bogor

Labels:

Wednesday, December 10, 2008

EVENT - UNJ CUP!!!

Ikuti dan Saksikan!!!!

Kejuaran Mahasiswa UNJ CUP
(pencak silat, basket, volly, sepak bola, tennis, etc)
memperebutkan piala REKTORAT UNJ
pada tanggal 16-20 December 2008
tempat
kampus Universitas Negeri Jakarta (UNJ)*/info

by
Mas ezra

Labels:

SELAMAT DAN SUKSES!!!

doc/from redsport.sg

Selamat atas kesuksesan!!!

TIM PENCAK SILAT - UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA
atas
keberhasilannya
dalam event Kejuaraan Pencak Silat Antar Perguruan Tinggi
Se- INDONESIA,
memperebutkan
PIALA PRESIDEN R.I.
memperoleh peringkat JUARA UMUM
dengan
membawa medali 5 (lima) EMAS, 2 (dua) PERAK, dan 1 (satu) PERUNGGU.

by
mas ezra - silatindonesia.com and lembahlawe.blogspot.com team

Labels:

Monday, December 08, 2008

KEJUARAAN PENCAK SILAT ANTAR PERGURUAN TINGGI SE DKI JAYA 25 - 26 NOVEMBER 2008


"...Seperti biasa kegiatan event diperingkat perguruan tinggi tidak selalu dipromosikan kepada publik umum, kegiatan semacam ini terbatas dikalangan mahasiswa pencinta pencak silat semata. Jika dilihat tujuannya untuk membina silaturahmi dikalangan pesilat antar perguruan tinggi, merupakan upaya yang sangat mulia..."
By O'ong Maryono



Padepokan Pencak Silat Indonesia yang megah disela-sela kesunyian yang ditinggalkan kepelatihan tim pecak silat Indonesia yang dipersiapkan untuk menghadapi Kejuaraan Dunia Pencak Silat yang direncanakan akan digelar Desember 2008 mendatang di Bali ternyata gagal dikarenakan, minat peserta jumlahnya kurang dari 20 negara yang bersedia mengirimkan pesilatnya. Kekosongan agenda kegiatan masih tertolong dengan adanya kegiatan pertandingan Pencak silat antar perguruan tinggi se DKI Jaya.

Seperti biasa kegiatan event diperingkat perguruan tinggi tidak selalu dipromosikan
kepada publik umum, kegiatan semacam ini terbatas dikalangan mahasiswa pencinta
pencak silat semata. Jika dilihat tujuannya untuk membina silaturahmi dikalangan pesilat
antar perguruan tinggi, merupakan upaya yang sangat mulia.
Pertandingan ini diikuti 16 perguruan tinggi yaitu UNJ, UMJ, APP, Politeknik Jakarta, ST
Perikanan, UIN, STEI, YARSI, GUNADARMA, UI dll.

Kelas yang dipertanding dari kelas A-G putra, sedang kelas putri mulai kelas A- E . Untuk
kelas TGR mempertandingkan tunggal putra/putri dan kelas ganda putra saja dengan
diramaikan total peserta seratus lebih pesilat.
Seperti biasa setiap pertandingan pencak silat di adakan di Padepokan Pencak Silat
Indonesia yang berada dikawasan TMII Jakarta Timur, selalu sepi akan penonton.
Pengunjung hanya sekelompok mahasiswa pendukung yang berasal dari pesilat yang
terlibat dalam kegiatan campus semata.

Pertandingan yang berlangsung singkat selama 2 hari menghasilkan keputusan perolehanmedali terbanyak diraup UNJ satu satunya tim terkuat dan memiliki kemampuan teknikmerata disetiap klas yang dipertandingkan, posisi kedua direbut oleh PERBANAS dan ketiga diambil oleh UPN. Menurut sumber yang dapat dipercaya para pesilat barumendengar berita adanya pertandingan pencak silat 2 minggu yang lalu, hampir semua pesilat tidak siap untuk mengikuti pertandingan, rancunya informasi kalenderpertandingan dan kurangnya dukungan dari perguruan tinggi membuat pelatihan pencaksilat di campus mati suri.

Wajahpertandingan yang ada, jika dilihat dari view mutu sport prestasi sangat mengawatirkan. Kurangnya persiapan para pesilat memberikan gambaran wajah pertandingan pencak silat jauh dari harapan, lesunya minat mahasiswa akan pencak silat dari tahun ke tahun semakin menajam menjadikan pertanyaan kita semua.
Sepatutnya kita acungkan jempol kepada panitia pelaksana yang masih mau memperjuangkan keberadaan pertandingan pencak silat antar perguruan tinggi se DKI.

Sepinya minat remaja akan pencak silat kurun beberapa tahun ditanggapi dengan serius oleh PB.IPSI, organisasi pengayom pencak silat mencoba secara konsisten mengadakan banyak kegiatan pertandingan, seperti pencak silat sirkuit di tanah air, dengan harapan dapat menjaring pesilat pesilat yang tangguh.
Jika menoleh kebelakang pertandingan pencak silat pantai ABG di Bali jumlah perolehan emas pencak silat olahraga tim tuan rumah hanya merebut 1 emas sedangkan 4 emas lainnya diperoleh dari pencak silat seni. Keadaan ini sangat mengawatirkan perolehan emas pada event internasional berikutnya.

Pertengahan dan penghunjung tahun 2009 kita akan dihadapkan pertandingan pencak silat Asia Indoor Games di Vietnam dan SEA Games di Vientien Laos. Kecenderungan besar tuan rumah tidak akan mempertandingkan pencak silat seni yang selalu memberikan perolehan emas bagi tim pencak silat kita. Jika kembali menelaah ke atas dimana kalangan mahasiswa sebagai pesilat intelektual sudah dihinggapi rasa ketidak tertarikan akan pencak silat olahraga, memungkinkan akan juga dapat mempercepat keterpurukan perkembangan pencak silat nasional, dimana saat pencak silat di kawasan ASEAN memiliki kekuatan yang sudah merata.

Lalu bagaimana pendapat anda agar hypotesa keterpurukan pencak silat olahraga Indonesia tidak **reff

Labels:

Saturday, December 06, 2008

[Workshop] Mengungkap Tabir beladiri Kerajaan Sunda Padjadjaran

by silatindonesia.com

Kerajaan Pajajaran adalah sebuah kerajaan yang diperkirakan di Pakuan (Bogor) di Jawa Barat. Dalam naskah-naskah kuno nusantara, kerajaan ini sering pula disebut dengan nama Negeri Sunda, Pasundan, atau berdasarkan nama ibukotanya yaitu Pakuan Pajajaran. Beberapa catatan menyebutkan bahwa kerajaan ini didirikan tahun 923 oleh Sri Jayabhupati, prasasti Sanghyang Tapak.

Namun hingga kini tidak banyak masyarakat yang mengetahui sisa-sisa dari peninggalan kerajaan padjadjaran baik berupa bukti sejarah hingga aliran beladiri yang digunakan seolah “ada namun tiada, tiada tapi ada“, begitulah istilah yang kerap kali menjadi misteri sejarah kerajaan tersebut hingga kini.

Ketangguhan beladiri dimasa kerajaan padjadjaran tempo doeleo masih menjadi misteri yang kini belum terungkap kepermukaan, namun sisa sisa beladiri tersebut yang pernah menjadi misteri kini terungkap kembali dan akankah cimande yang dikenal sebagai aliran tertua di Jawabarat akan tumbang oleh aliran yang dikenal lebih tua ini?, mari kita sama-sama ikuti kegiatan para sahabat silat dalam acara diskusi atau Workshop yang diberi tema “Mengungkap Tabir beladiri Kerajaan Sunda Padjadjaran”.

Acara Workshop tersebut akan berlangsung pada akhir bulan desember saat ini masih dalam tahap perancangan dan persiapan, perkiraan akan di adakan di Padepokan Nasional Pencak Silat TMII Jakarta. kegiatan ini akan menjadi bagian yang amat terpenting bagi dunia beladiri khususnya pencak silat di Indonesia, bagaimana sebuah aliran tua kembali membuka diri kepada masyarakat luas yang sebelumnya hanya dikenal oleh terbatas pada kalangan keluarga.

Aliran tersebut dikenal dengan nama “Gerak Gulung Budi Daya” sejarahnya amatlah panjang dan belum pernah di publikasikan oleh IPSI maupun organisasi manapun, dengan niat yang tulus dan iklas keluarga besar Gerak Gulung Budi Daya bersama Komunitas Pencak Silat Indonesia dan para sahabatsilat di Tanah Air mengajak masyarakat luas untuk hadir dalam acara workshop ini.

Bagi yang berminat anda bisa mengubungi panitia di alamat e-mail:

  • workshop[at]sahabatsilat.com
  • support[at]silatindonesia.com

Untuk mengetahui sejarah Singkat Aliran ini anda bisa membaca artikel hasil penulisan sahabat silat di alamat ini :

Artikel :
http://silatindonesia.com/2008/11/rahasia-beladiri-kerajaan-padjadjaran/

Vidoesilat.com :
promo video resminya bisa diintip dari:
http://videosilat.com/video/656b6e5003b5647/Workshop-Gerak-Gulung–Introduction
http://videosilat.com/video/c1dbe75f29693b8/Gerak-Gulung–Introduction

ForumDiskusi-Sahabatsilat.com
http://sahabatsilat.com/forum/index.php?topic=940.45

Milis silatindonesia
http://sports.groups.yahoo.com/group/silatindonesia/message/9318

“Lestarikan budaya bangsa dengan rasa bangga”

Labels:

Sunday, November 23, 2008

Work Shop Gerak Gulung, Tradisional Pencak silat Indonesia


by Masezra

Work Shop Gerak Gulung, Tradisional Pencak silat Indonesia

"...bahwa pada tahun 2009, wak otto berfirasat silat tradisional akan menemukan momentum kebangkitan, untuk itu kita diharapkan tetap mencintai dan berjuang untk kebangkita silat tradisional ini..."

Bagi Sahabat Silat yg merintis hubungan kita dg Gerak Gulung pasti tahu betul bagaimana rumitnya upaya kita. Nah, mengingat hal itu, maka komunitas sahabat silat indonesia dan forum pecinta pelestari pencak silat indonesia menemukan sebuah pemikiran untuk membuat sesuatu yg lain dari yg lain terhadap GG (gerak gulung) yang memang salah satu aliran silat tradisional tertua di jawa barat ini pastinya harus di lestarikan.
Sewaktu Kang Awang (Guru), berniat membuka pelatihan di Jakarta, bahwa agar pelatihan ini lebih diminati oleh para calon murid, ada baiknya diselenggarakan pertemuan dengan cara mengadakan workshop terlebih dahulu. Dan Alhamdulillah, rencana ini disambut baik oleh Kang Awang dan para sesepuh GG.

"Tindak lanjut dari rapat kecil para sahabat silat dan pecinta silat tradisional yang bergabung dalam komunitas sahabatsilat.com, saya, gan iwan dan kong nijam telah berangkat ke ciomas
ketemu wak otto dan kang awang",kata ochid anggota komunitas
Salah satu topik yang dibicarakan adalah rencana pembukaan kelas pelatihan gerak gulung dan rencana workshop GG meski minmal sekali model acara bisa berupa workshop, bisa diskusi seperti yang rutin diadakan tiap bulan atau seminar.

Salah satu pesan dari wak otto (sesepuh) adalah : "bahwa pada tahun 2009, wak otto berfirasat silat tradisional akan menemukan momentum kebangkitan, untuk itu kita diharapkan tetap mencintai dan berjuang untk kebangkita silat tradisional ini..."
dan yang lebih penting lagi dari point lainnya adalah waktu sahabatsilat berkumpul di padepokan GG yang akhirnya begadang sampe pagi, sedikit banyak dapat oleh-oleh dari kang awang yang intinya
dapat kesimpulan adalah : KANG AWANG (gerak Gulung) PERLU GENERASI PENERUS KELESTARIAN Gerak Gulung di Indonesia. maka dari itu bagi para pecinta silat semua harapan nya semoga bisa membantu menjadi kader-kader yang peduli terhadap silat terutama bisa turut membantu pelestarian aliran-aliran traidisional yang hampir punah.

Jaya terus pencak silat!
Terima kasih
Team Silat Indonesia.com

Labels:

Sunday, September 21, 2008

Meneropong Perkembangan Silat tahun 2009

Meneropong Perkembangan Silat tahun 2009

by Yanweka

Hujan baru saja turun membasahi sebagian wilayah jakarta, udara sejuk malam ini membuat kami sedikit bersemangat untuk berbincang-bincang santai dengan beberapa orang anggota komunitas sahabat silat. Tidak ada pembicaraan yang serius hanya saja saya dan kawan-kawan mencoba menerka-nerka atau istilah kerennya "meneropong" tanpa ada alat bantu sehingga terkesan lebih mengarah pada kata "menerawang".

Sejak hadirnya FP2ST dengan debutnya pertama kali tahun 2006, komunitas Silat seolah mendapatkan angin segar dengan nuansa yang lebih kompromi karena umumnya anggota komunitas itu sendiri memiliki cita-cita yang sangat mulia. Gelaran acara bahkan ide - ide cemerlang menyeruak menembus batas tanpa ragu-ragu, perjuangan inilah yang disebut dengan semangat komunitas, dimana setiap anggota memiliki visi dan misi yang sama tidak lagi memandang siapa dan apa yang dikerjakan, semua berbaur menjadi satu tujuan yang mulai dan besar.

Setidaknya tahun 2006 hingga 2007 menjadi bukti dan unjuk gigi para volentir yang rela bekerja tanpa menilai uang dibalik semua misi tersebut, bukti tertulis bisa kita lihat di situs silatindonesia.com dan juga di beberapa media seperti koran dan juga televisi.

Semangat volentir tersebut mendapatkan nilai plus bagi perkembangan komunitas pencaksilat saat itu, karena tidak sebatas pada komitmen yang kuat akan tetapi juga pada kemauan dan tujuanyang ingin di capai tanpa harus bergerak sendiri-sendiri.

"optimesme" begitulah jawaban sebagian anggota sahabat silat yang hadir pada malam itu saat kita mendiskusikan perkembangan komunitas dan khususnya silat itu sendiri di tahun yang akan datang. rasa optimis menjadikan satu kunci jawaban bahwa kita masih semangat memperjuangkan silat menjadi tema pokok untuk mengangkat derajat silat sebagai olahraga yang menyenangkan dan digemari oleh lapisan masyarakat khususnya anak muda di kota-kota besar yang tentunya lebih realistik dalam menilai pencak silat tidak sebatas pada beladiri semata.

Satu catatan yang harus kita pegang teguh bahwa "bergerak sendiri-sendiri" bukanlah sifat dari berkomunitas, karena kita tahu bahwa di dalam komunitas kita adalah salah satu element di dalamnya tanpa kehadiran kita maka semua kegiatan akan pincang bahkan mungkin tidak jalan sama sekali.

Catatan lainnya adalah janganlah berfikir sepihak, karena komunitas itu banyak kepala di dalamnya kadang ide-ide baik belum tentu bisa direalisasikan dengan sempuran dan disinilah kita butuh dukungan agar wacana tersebut tidak berhenti saat di lontarkan akan tetapi bisa di realisasikan.

Keterbatasan Sumber daya manusia menjadi hal yang pokok, karena kalau boleh jujur ( please jangan marah neeh) sebagia dari anggota komunitas masih sebatasa pada "penikmat" kepanitiaan masih orangnya itu-itu juga, padahal tongkat estafet harus berputar agar terus bergerak dan berpindah, dan pada tahun 2008 hal ini nyaris terjadi SDM yang biasanya bergerak karena ada kesibukan dalam pekerjaannya menjadikan tongkat estafet tersebut tidak ada yang melanjutkan dan bahkan terhenti.

Tulisan, Foto Kergiatan, Liputan, Silaturahmi, diskusi bulanan dan masih beberapa kegiatan lainnya yang sempat terhenti, karena komunitas ini memang sangat terbatas pada volentir yang setia mengerakkan, dan SDM di komunitas ini pun teryata masih dibawah angka yang normal.

Hasil penelurusan berdasrkan data - data saja bahwa ternyata komunitas silat di dunia maya berjumlah kurang lebih 1000 orang, yang aktif mencapai angka 500 orang, anggota ini sebagian ada di sahabatsilat.com, tapi tidak semua anggota disini berlokasi di Jakarta, jadi kira-kira yang ada di jakarta sekitar 100-200 orang, volentir yang aktif kira-kira berjumlah hanya 50 orang saja. dan kadang2 50 orang ini saat sibuk maka kegiatan juga bisa berhenti.

padahal menurut data lainnya komunitas pencak silat di dunia maya bisa melebihi angka 2000 atau paling banyak adalah 3000 orang, sebagian adalah anggota milis dari perguruan tertentu yang kemungkinan tidak ada niat/belum mau bergabung denga komunitas silat seperti sahabatsilat ini, satu jawaban yang pernah kami dapatkan adalah karena mereka lebih berfokus pada kegiatan perguruan yang ia ikuti dan ini menjadi catatan kami bahwa teryata pembatas - pembatas atau jarak komunikasi sesama pesilat masih kurang baik, bahkan undangan yang kami kirimkan tidak di gubris sama sekali karena anggapan "itu bukan kegiatan perguruan kami".

Setidaknya ada dua milis perguruan besar yang kami pelajari, sehingga wajarlah bila kita amati kegiatan yang sifatnya komunitas belum bisa diterima oleh sebagian pesilat yang umumnya masih berorientasi pada perguruannya. beberapa tulisan juga menyayangkan sebagai perguruan besar tersebut masih mendoktrin anggotanya padahal Indonesia membutuhkan SDM mereka tidak sebatas pada kegiatan internal mereka. akan tetapi biarlah mungkin saat ini belum kelak suatu saat banyak pendekar yang mampu menyadari kebersamaan ini tanpa harus jalan sendiri-sendiri.

Lalu bagaimana dengan jumlah pesilat dari perguruan yang ada di Jakarta, tentunya setiap perguruan punya stok anggota yang beragam, SHT, MP, PD, KPS, PDJ, TS, dan lain-lain masih memiliki anggota yang mencapai ribuan anggota, padahal bila saja anggota yang jumlahnya ribuan ini bisa ikut meramaikan kegiatan komunitas maka suasananya makin semarak, walaupun penggerakknya adalah volentir dari komunitas silat Indonesia. dan setidak-tidaknya apa yang ingin di share melalui kegiatan di komunitas akan memberikan wahana baru bagi pesilat muda kita, agar mereka memahami teryata Indonesia adalah sumber dari ilmu beladiri ini tidak semata-mata dari buku akan tetapi ia bisa melihat dari kaca mata dirinya sendiri(YwK).

*sumber www.silatindonesia.com

Labels:

Friday, September 12, 2008

Silat Shop from Silatindonesia.com

Sahabat Silat yang kami Cintai

Silatindonesia.com memberikan satu menu khusus namanya Shop Silat ( Toko Silat ), isi toko ini memang belum banyak, akan tetapi kita mulai dari hal hal kecil agar bisa terlaksana membuat Toko Silat bagi kita semua, kamu tentunya bisa berpartisipasi dengan membeli apa yang kita perdagankan disini.
==terima kasih==

BUKU SILAT

Pencak Silat Merentang Waktu

Telah terbit kembali buku Pencak Silat Merentang Waktu

  • Penulis : Oong Maryono, Cetakan ke-3 Th. 2008
  • Penerbit : Benang Merah, Yogyakarta
  • Harganya hanya Rp. 65.000,-

Ongkos kirim Jawa (20.000,-), lainnya konfirmasi.
Pesan Hubungi - Mas Ezra hp. 081572770409

Transfer ke Rekening - BCA KC Matraman No. 3422868183
atas nama Agung S. Purnomo

Terima Kasih.
Salam Manis dari Pengelola Silat SHOP
Mas Ezra

T-Shirt Silat Community

T-Shirt Silat Community akan kembali di Release pada akhir Tahun 2008
Untuk itu sahabat silat dapat memilikinya dengan cara memesan.
Pemesanan akan dibuka melalui pengumuman di Milis Silatindonesia maupun di Forum Sahabatsilat.com
Desain dan warna sedang dalam proses pengerjaan.
Tunggu Informasi kami selanjutnya.

Stiker Cantik SilatIndonesia.com

Stiker Silat Community akan kembali di Release pada akhir Tahun 2008
Untuk itu sahabat silat dapat memilikinya dengan cara memesan.
Contoh dan Ukuran bisa dilihat pada gambar di Bawah ini.

Labels:

Ziarah Ke Leluhur Cingkrik Goning

Oleh : Ezra Purnama

Konvoi

Suasana terik matahari mendadak berubah mendung, matahari tertutupi awan yang mulai pekat, sesaat kami tiba di Padepkan Nasional IPSI, Taman Mini Indonesia Indah – Jakarta Timur.

Setelah istirahat makan siang dan menuaikan ibadah shalat dhuhur, sedikit terlambat kami berkemas untuk kemudian berangkat menapaki rute yang telah kami rencanakan dua minggu lalu. Pukul 13.30 wib, sekitar 30 menit lewat dari jadwal yang di rencanakan kami bertolak dari basecamp untuk berkonvoi-ria menuju peta lokasi ziarah Cingkrik Goning.

Berbekal arahan singkat dari bang Lutfi, sang kordinator sekaligus mentor Team Ziarah Cingkrik Goning, tanpa peta atau perlengkapan GPS yang memadai. Kami melakukan iring-iringan beberapa kendaraan bermotor dan mobil picato warna hijau membawa spanduk panji-panji Team Beladiri Tangan Kosong Cingkrik Goning. Dengan rute perjalanan dari Timur ke Barat, dijakarta barat merupakan objek tujuan kami dalam kesempatan ini.

Rute yang di lewati, dari TMII – UKI – Jl. Gatoto Subroto – Jl. S. Parman – Jl . Daan Mogot – Jl. Kedoya Raya sebagai titik pemberhentian pertama , selanjutnya dari sana kita akan di pandu oleh kerabat dari alm. Kong Goning. Alhasil tanpa berbekal perlengkapan navigasi yang cukup, hanya berbekal berani dan coba-coba lurus atau belok kanan-kiri serta semangat tinggi ’45, sempat membuat salah satu team motor keluar dari rute yang di rencakan, namun berkat keompakan team dan kordinasi yang baik kendala semacam itu dapat teratasi dan akhirnya kita bias berkumpul di titik pertemuan, maklum salah satu team kami masih merasakan betapa Indonesia baru merayakan Dirgahayu yang ke 63.

Makam Kong Goning berbakal pe

Setelah menyusuri jalan kedoya raya sekitar 2 km, tepat pukul 15.00 wib kami tiba di KPU Rawa Kopi dimana dimakamkan Alm. Ainin bin Urim ataiu yang lebih kita kenal dengan Kong Goning.

Kondisi makam Kong Goning cukup sederhana di banding makan-makam di sekitarnya hanya berupa petak tanah, tanpa nisan, bahkan nama beliaupun tidak sudi untuk di ukirkan di sana. Pantas saja jika bukan ahli warisnya akan terasa sulit menemukan makamnya. Sangat bertolak belakang, dimana kebesaran beliau tidak dapat menyembunyikan kesederhanaan si Engkong yang di kenal di tengah masyarakat sebagai orang biasa yang sederhana.

Disamping itu, sepeninggal beliau mungkin juga ahliwarisnyapun ingin melaksanakan amanah dari beliau sebelum meninggal, bahwasanya makam beliau di buat apa adanya tanpa nisan atau bangunan seperti makam-makam pada umumnya tidak lain untuk menjaga supaya tidak ada orang yang mengkultuskan nama besar beliau apalagi sampai mengkeramtkan makamnya.

Dikesempatan terakhir setelah doa di panjatkan TB. Bambang selaku Guru memberr beliau apalagi sampai mengkeramtkan makamnya.asanikan nasehat kepada peserta sekaligus menceritakan sedikit riwayat beliau bertemu dengan dengan Engkong Goning, bahwasanya ilmu beladiri yang dimiliki beliau saat ini adalah berasal dari Engkong Goning.

“Kong goning telah memberikan banyak pelajaran yang bermanfaat kepada Guru Saya dan selanjutnya turun ke saya, dari saya di ajarkan kepada semua, jadi sudah sepantasnya kita mengingat jasa beliau dengan mendoakannya dan terus melestarikan ilmu yang telah di ajarkan untuk kebaikan”, kata beliau sebelum menutup doa.

Makam Bang Pitung

Dari kedoya, kami bergegas ke tujuan ketujuan berikutnya yaitu ke makam si Pitung yang terletak persisi di depan Gd. Telkom Jl. Raya Kebayoran Lama – Kemandoran – Jakarta Selatan.

Disanapun kita kembali merasa teriris dan hanya tertegun diam melihat kondisi makam salah satu tokoh legenda Batvia-tempo dulu Bang Pitung, terletak disamping pintu masuk Gd. Telkom depan pos Security dalam pagar telalis besi di bawah rumpun bamboo apus makam itu berada.

Meskipun hanya sebagian anggota tubuh dari bang pitung yang di kubur disana tapi tidak mengurangi makna bahwa di sanalah makam mantan pejuang betawi yang turut mebela perjuangan bangsa Indonesia waktu itu di makamkan. “Bang Pitung, Jasamu tidak terlupa sepanjang masa”.

Tidak begitu lama kita berada di sana, selesai berdoa semestinya kami kembali bergegas ke tujuan terakhir, pukul 16.00 wib kami melanjutkan perjalanan karena suasana gelap, mndung sudah semakin tebal kami terus berburu degan hujan, tapi ada manfaat 30 menit terlambat di awal telah membuat terhindar dari hujan pertama.

Makam Usup Utay, Guru TB. Bambang

Seteah berburu dengan waktu, sambil menunggu teammobil yang terjebak kemacetan di sepanjang jalan Ciputat-Lebak bulus, kami satu rombongan sempat singgah di sebuah kedai yang menyediakan kue serabi, nampaknya kue serabi tersebut khas dari kampong Rempoa-Ciputat, meski waktu memburu kami semua sempat mencicipi hidangan kuliner di perjalanan.

Dari sana, kami menyusuri jl raya rempoa dan tidak jauh dari jalan utama sampilah kami di tempat tujuan, rupanya team mobil sudah menunggu disana. Makam kampong Rempoa, disanalah Guru Usup Utay di makamkan berdekatan dengan makam orang tua TB. Bambang.

Beliau memang memiliki darah bangsawan Banten dari ayahnya TB. Boy Sasmitha, meski ibunya yang memiliki nama asli Rostien Monoarfa berasal dari Gorontalo, tapi nampaknya darah Banten yang mengalir dalam dirinya di perkuat dari neneknya RT. E. Moersinah, yang makamnya tepat di sebelah putranya. ariau memang memiliki darah bansawan Banten, meski sang bunda kam orang tua TB. Bambang.

mpat tujuan, rupanya team mob

Suasana bertambah haru saat doa terkahir di bacakan dan kami semua ikut mengamini, saat itu juga rintik huja menyambut seakan pertanda bahwa perjalanan kami hari itu telah di laksanakan engan baik dan terima kasih dari alam Tuhan YME meridloinya,amien.

Situ Rompong – Penutup

Perjalanan berlanjut bergegas menuju tempat istirahat di komplek MABAD, tujuan kami adalah ke rumah kerabat TB. Bambang, sebelum sampai ke sana kita sempat di suguhi pemandanga indah dari alam rempoa- dimana disana ternyata ada sebuah danau (Situ) yang di kenal dengan Situ Rompong, situ romping nampak tenang kemilau air hujan diterpa kerlingan matahari senja membuat suasa redup itu tampak indah, di sekelilingnya namapak banyak orang yang tengah memancing ikan mungkin di Situ Rompong selain jadi wisata daerah juga sebagai mata pencaharian para pemancing ikan.

Di komplek mabad para peserta beristirahat melepas lelah sekaligus beramah tamah, pada kesempatan itu kita saling berdiskusi tentang semua hal dan di akhir acara TB. Bambang kembali berpesan serta mengajak kepada keluarga besar cingkik goning, bahwa beliau salah satu pewaris Ilmu Beladiri Tangan Kosong Cingkrik dari Kong Goning, beliau sadar betul akan tanggung jawabnya secara moral yang terpenting adalah berkewajiban untuk melestarikannya.

Maka dari itu, beliau menghimbau kepada semua anak muridnya tanpa terkecuali untuk mendukung maksud baik itu, setidaknya dengan terus giat belajar dan berlatih terus-menerus tanpa lelah. Pada kesempatan itu pula beliau menyatakan sikapnya yang terbuka kepada semua bahwa beliau tidak membatasi siapa saja yang ingin belajar dengan tujuan pelestarian maka akan di sambut dengan tangan terbuka.

“Sampai kapanpun, mari kita secara sadar terus melestariakan ilmu beladiri cingkrik ini agar tidak punah, selama saya masih ada manfaatkanlah waktu sebaik-baiknya untuk terus berlatih dan mengambil ilmu yang ada pada saya sebanyak-banyaknya, tujuan pengkaderan dalam Cingkrik goning tidak bertujuan untuk mencari Jawara tapi yang lebih penting adalah mencetak kader-kader seorang Guru Cingkrik yang siap untuk mengembangkan lagi ilmunya supa ilmu beladiri ini dapat bermanfaat dan tetap lestari”, jawabnya ketika diwawancarai oleh kontributor silatindonesia.com sekaligus menutup acara ramah-tamah sore itu.

Beliau juga menegaskan kembali, saat ini tinggal beliaulah yang mengajar ilmu beladiri warisan kong goning. Sesuai dengan data yang ada memang tinggal TB. Bambang yang eksis dan aktiv mengembagkan Cingkrik Goning, dengan penuh semangat beliau melakukan pembinaan kepada public yang berminat mempelajarinya.

Terima kasih kepada :

  • Keluarga besar Cingkrik Goning
  • Sahabat SIlat Community
  • dan kawan kawan lainnya
* (from silatindonesia.com)

Labels: