html xmlns="http://www.w3.org/1999/xhtml" xml:lang="en" lang="en"> Jejak Kaki Lembah Lawe

Sunday, November 11, 2007

Festival Pencak Silat Tradisional Padjadjaran Nasional 2007 - TMII


Jakarta
-Mengukur sebuah perkembangan dan mengamati seberapa banyak orang masih setia menjadi penikmat perkembangan kebudayaan bangsanya sendiri memang cukup sulit mungkin bisa di bilang Impossible. Namun lain halnya dengan Event yang baru saja di gelar oleh Perguruan Silat Padjadjaran Nasional hari minggu lalu 28 Oktober 2007 di Padepokan Nasional Pencak Silat-TMII, sebuah Festival Seni Pencak Silat.

Kata Festival memang sering kita dengar dan Festival Pencak Silat mungkin saja sama meskipun sangat jarang kita menyaksikan acara yang sangat menarik ini.Hal itu mengingatkan kita terhadap nilai luhur budaya bangsa yang mulai di lupakan di tengah modernitas dan gaya hidup masyarakat yang lebih memilih budaya import di samping budaya bangsanya sendiri.

Seperti yang di ungkapkan oleh Djimy Rohat,selaku Dewan pemina sekaligus jajaran kasepuhan Perguruan Padjajaran Nasional. Menurut beliau salah satu yang melatar belakangi terealisasinya acara ini tidak lain adalah untuk membandingkan nilai budaya luarnegeri (asing) terhadap nilai-nilai budaya yang telah ada (pencak silat), dan tujuannya adalah sekaligus ingin melihat seberapa besar animo masyarakat dan selanjutnya bisa dikumpulkan kiat-kiat dari masyarakat itu sendiri untuk mengembangkan pencak silat dimasa datang.

Bukti nyata memang ada, kenapa animo masyarakat cukup besar? Berarti masih ada perhatian kesadaran diri untuk memperhatikan perkembangan dan pelestarian warisan budaya bangsa dalam hal ini pencak silat di masa yang akan datang.

“Bisa-bisa beberapa waktu yang akan datang anak-anak kita malah belajar pencak silat ke Belanda bukan sebaliknya”, lanjut Pak Djimy dengan gaya yang luwes namun tetap tenang dan berwibawa.

Ditambahkan oleh Pernyataan Dasep Arifin (Dewan Kasepuhan Padjajaran), bahwa menjadikan acara yang cukup menarik ini sebagai wujud untuk menjaga, mempertahankan serta melestarikan nilai-nilai budaya lokal melalui Pencak Silat.

Padjajaran Nasional di Belanda

Kekhawatiran yang sama mungkin saja timbul di hati pembaca, jika kita lihat acara Festival Padjajaran Nasional. Memang tetap saja ada perhatian dari pesilat luarnegeri meskipun hanya di wakili oleh 3 (tiga ) pesilat yang mewakili beberapa Club yang ada di Belanda, dikarenakan pelaksanaan acara tidak jatuh tepat pada musim libur mereka di Belanda.

Perkembangan Pencak Silat di belanda memang cukup dominan dari beberapa perguruan yang ada tercatat banyak sekali aliran tradisional yang berkembang di eropa termasuk di Belanda, dan tercatat oleh NPSB (Nedherland Pencak Silat Bonds) semacam IPSI jika di Indonesia.

Yang cukup menarik dalam NPSB adalah mereka hanya akan mencatat dan memberikan keanggotaan bagi Perguruan-perguruan silat termasuk aliran-aliran pencak silat hanya yang masih ada silsilah atau hubungan darah dengan Aliran atau perguruan asal di Indonesia.
Hal ini di maksudkan agar pertumbuhan pencak silat di sana dapat di Control dan di awasi ekstra hati-hati.

Dari perguruan padjajran sendiri di Belanda tercatat ada 5 (lima) Club atau cabang, yang anggotanya berkisar antara 300-500 orang dari setiap Club yang ada. Jumlah yang patut di bandingkan memang bagi perkembangan perguruan di dalam Negeri.

Mengingat perkembanga yang cukup bagus, pihak Padjajaran Nasional terus melakukan langkah-langkah terhadap peningkatan kualitas SDM pesilatnya di semua jajaran termasuk dalam kualitas pembinaan dan pelatihan, serta membuat program-program yang dapat merangsang semangat pesilat-pesilat muda sendiri, salah satunya dengan mengadakan event yang baru saja berlalu.

Event yang sama memang rencananya akan terus diadakan di Tahun-tahun mendatang yang akan jatuh menjadi program tahunan secara bergantian baik di belanda-Indonesia kerjasama dengan Padjajaran di kedua negara. Menurut Arya (Ketua pelaksana), sebenarnya event yang sama juga pernah di adakan sebelumnya di Belanda dan teknis pelaksanaan acara ini juga tidak untuk di perlombakan, kecuali Festival untuk Intern Perguruan.

Tema dari acara juga cukup jelas menurut Arya, “Pertama; Memotivasi dan mengingatkan para pesilat bahwa khas dari pencak silat adalah seni. Kedua; mengingatkan setiap pesilat untuk tidak terlena terhadap event pertandingan saja sehingga melupakan aspek seni”. Selanjutnya menurut Arya, secara garis besar memang untuk menggalang tali silaturahmi dengan sesama perguruan dan aliran juga pesilat di seluruh Wilayah baik di Indonesia maupun di luar negeri. (MasEzra,28/10/07)

Labels:

Sunday, February 04, 2007

Sejarah Jurus Banjaran,CentralJava

"...Ketika mereka pulang ke djokdjakarta dan mengembangkan ilmu Pencak Silat yang disempurnakan dengan mengadu ilmu-ilmu dari berbagai aliran, mereka menempatkan jurus yang diterima dari KH. Busryro menjadi sumber ilmu utamanya yang di beri nama “JURUS BANJARAN”...."

Oleh: Mas ezr
a Danu Lana

Akan aneh rasanya kalau seorang pesilat dari Banjarnegara tidak mengenal nama KH. Busro Syuhada dari Binorong Bawang yang justru dikenal sebagai pendekar besar oleh orang di berbagai pelosok tanah air bahkan sampai berbagai Negara. Nama besar beliau terangkat dengan perantara 2 orang muridnya yang berguru ke binorong pada tahun 1925. Mereka berdua adalah kaka beradik : M. Wahib dan A. Dimyati.

Ketika mereka pulang ke djokdjakarta dan mengembangkan ilmu Pencak Silat yang disempurnakan dengan mengadu ilmu-ilmu dari berbagai aliran, mereka menempatkan jurus yang diterima dari KH. Busryro menjadi sumber ilmu utamanya yang di beri nama “JURUS BANJARAN”.

Tak dikenal Jurus Banjaran oleh masyarakat Banjarnegara sendiri, sehingga nama Jurus Banjaran itu di terima dari anak murid kedua endekar kakak beradik itu. Padahal di Banjarnegarapun KH. Busyro punya murid langsung juga menerima ilmu serupa dengan yang di terima oleh pendekar M. Wahib dan A. Dimyati. Satu diantara murid kesayangan KH. Busyro adalah Abu Tafsir dari Wanadadi. Tidak aneh kalo pendekar Abu Tafsir juga sangat disegani oleh massyarakat Wanadadi pada khususnya dan Banjarnegara pada umumnya.

Pendekar Abu Tafsir menurunkan ilmu kanuragan itu kepada anaknya yang bernama Mirhadi yang kemudian namanya diubah oleh teman-temannya di Pondok “Pesantren” Gontor menjadi Syarif Amiruddin. Dan Syarif Amirudin yang nama kecilnya di panggil Mirhadi mengembangkan jurus Banjaran kepada murid-muridnya di Wanadadi. Dari perantaraan ketekunannya melatih maka Wanadadi akhirnya menjadi gudangnya pencak silat walaupun tak pernah di sebut Jurus Banjaran.

Sebagai penerus Jurus Banjaran, Syarif Amirudin sangat di segani di Wanadadi sebagaimana Ayah kandungnya pada jamannya. Ternyata dengan Syarif Amirudin berhasil mencetak pesilat-pesilat yang tangguh di Wanadadi.

Bukan pesilat Banjarnegara kalau tidak mengenal besar seorang pemuda yang bernama Lutfan Budi Santoso yang kemudian menjadi andalan Indonesia untuk meraih prestasi besar di berbagai Negara. Dan bagian dari ilmu Lutfan Budi Santoso adalah Jurus Banjaran warisan kakeknya Abu Tafsir dan Buyutnya Pendekar Besar KH. Busyiro Syuhada. Karena ternyata Lutfan terlahir dari ibu Sumiyati cucu langsung dari KH. Busyro Syuhada.

Cerita ini hanya pengantar bagi saudara-saudaraku yang akan berlatih sebagaian dari Jurus Banjaran lewat pelatihan ini. Dan dari Saudara-saudaralah Jurus Banjaran diharapkan dapat lebih dikenal oleh masyarakat Banjarnegara melalui permasalahan jurus ini nantinya.

Memang sebagian jurus Banjaran yang di berikan pada pelatihan ini karena kami tahu kehadirannya saudara-saudara kepelatihan ini tidak membawa bekal ilmu yang sama, bahkan mungkin ada yang belum mengenal pencak silat yang sebearnya.

Hanya dengan kesungguhan dan ketekunan ilmu ini akan dapat diserap dengan baik dan penyerapannya tidak sama. Tapi dengan di ulang 3-5 kali latihan dengan waktu tiap latihan 2 kali 4 jam maka bisa lebih cepat ilmu ini di kuasai bagi yang berniat mempelajarinya. (Di ambil dari Diktat Petunjuk Pelaksanaan Kepelatihan Pencak Silat Tingkat Kabupaten Banjarnegara Th. 2006, Dinas pendidikan Kabupaten Banjarnegara.)

Labels:

Thursday, September 21, 2006

Memanfaatkan Tenaga Lawan Untuk Menghindari Cedera Dalam Pertarungan

Bicara Teknik-Beladiri: di Silat Bogor

Ok kalo begitu saya mulai dengan teknik silat yang sangat mirip dengan teknik yang ada dialiran lain, maksud saya AIKIDO.

Didalam silat konsep mengalirkan tenaga lawan pada beberapa aliran silat bukanlah sesuatu yang aneh, saya ambil contoh pada beberapa aliran maen po teknik buang kelid atau piceunan (dalam bahasa sunda) sudah merupakan teknik dasar yang harus di miliki.

Contohnya pada aliran cikalong, memanfaatkan tenaga lawan akan menghasilkan hasil yang lebih efektif dibandingkan dengan mengadu tenaga dengan lawan dengan menangkis serangan lawan misalnya. Apalagi kalau ukuran badan dan tenaga lawan sangat besar dan tidak mungkin ditandingi dari segi tenaga.

Saya sempat teringat ketika latihan sabtu dulu sempat diskusi dengan teman yang menceritakan ketika dia ditunjukkan cara menghindari teknik kucian tangan dengan cara cikalongnya pak azis, (sebelumnya pernah di praktekkan oleh pak azis). Caranya adalah dengan ngikuti tenaga lawan dan merapatkan lengan ke badan dengan tanpa memberikan tenaga tolakan. Otomatis kuncian tangan dapat di lepaskan meski yang mengunci lebih besar tenaganya.

Teknik seperti ini dikenal dengan istilah isi kosong (eusi-kosong), dimana sebagai pesilat dapat mengetahui kapan harus dilawan dengan tenaga dan kapan diberi tenaga kosong.

Sepertinya konsep ini juga dianut oleh aliran lain seperti AIKIDO, semakin terasah rasa kita ketika mengetahui kapan tenaga lawan habis maka semakin sempurna kita berlatih tenaga eusi-kosong ini.

Salah satu syarat untuk melatih ini adalah dengan melatih jurus dengan cara nempel dengan lawan atau bahasa sundanya adalah ulin napel atau Usik. Dengan semakin sering kita usik akan semakin terlatih rasa kita dalam mengukur tenaga lawan dan menyalurkan tenaga lawan dengan menggunakan tenaga isi dan kosong (eusi-kosong).

Hal lain yang perlu di lihat dalam pengaturan tenaga ini adalah bahwa kekuatan terbesar dalam tenaga adalah tenaga putaran (circle power), ini bisa dilihat dalam setiap gerakan AIKIDO dimana semua tenaga lawan akan dialirakan sesuai dengan tenaga putaran, begitu tenaga lawan habis maka waktunya kita untuk menyerang balik.

Tenaga putaran ini tidaklah cukup dengan hanya memutar badan saja tetapi harus diimbangi dengan kelincahan gerak kaki yang sangat terlatih dalam menyalurkan tenaga lawan.

Didalam silat teknik seperti ini sudah ada dan sangat familiar dilakukan dikalangan pesilat tradisional lihat bagaimana silek Sumatra melakukan kerakan putan sudah merupakan bagian dan cirri aliraan ini. Sedangkan di penca sendiri setiap jurus maen po memiliki metoda untuk melatih langkah yang disebut dengan pancer.

Jadi silat tidak kalah dengan AIKIDO bahkan jurusnya lebih kaya sepertinya dari aliran lainnya.

Di tunggu komentar dan tanggapannya.

Jaya silat Indonesia


Best Regards,
KRNov
Kiki Rizki Noviandi
Business Intelegent & Integration - Technology Initiatives
Solution Manager

Labels:

Wednesday, September 20, 2006

Paguron Pancer Bumi Sebagai Upaya Pelestarian Aliran Cikalongan Yang Syarat Tradisi

PROFIL CIKALONGAN
GARIS PERGURUAN PANCER BUMI
ASUHAN H. ACENG DAN H. AZIZ SYAR’IE - CIANJUR
Oleh: Mas Ezra Danu Lelana

Keunikan ilmu pencak silat tradisional memang di akui di seluruh dunia khususnya negara-negara telah akrab dengan beladiri khas melayu seperti Indonesia. Termasuk Jawa Barat ikut andil menjadi salah satu kiblat untuk belajar ilmu beladiri ini, banyak berbagai perguruan lahir disana dari berbagai aliran yang ada seperti Cimande, Cikaret, Bandrong, Serak, Syahbandar, Pacilongan termasuk aliran Cikalongan. Semuanya, menjadi pilihan yang sangat sulit bagi pecinta pencak silat yang berniat mendalami salah satu budaya nenek moyang bangsa Indonesia, karena semuanya sama-sama memiliki nama dan peringkat yang sangat bagus di dunia persilatan, serta dengan beragam karakter yang khas antara yang satu dengan lainnya.

Diantara sekian banyak aliran Cikalongan ada diantaranya yang memiliki ciri silsilah yang cukup nyata dari H. Ibrahim (Seorang Bangsawan Cianjur) yang kemudian menjadi warisan tokoh Cikalongan sekarang yaitu H. Aceng dan H. Aziz Syar’ie, dengan perguruan Pancer Bumi asuhannya untuk lebih bisa di bedakan bahwasanya kaidah ilmu aliran cikalong yang beliau kembangkan adalah aseli serta memiliki silsilah langsung dari H. Ibrahim.

Secara garis besar Aliran Cikalong-Pancer Bumi memiliki 10 Jurus , antara lain yang lazim terdengar di khasanah silat Jawa Barat adalah Suliwa, Kocet, dan Tomplok. Walaupun hanya terdiri dari 10 jurus tetapi apabila telah dilakukan penggabungan dan pendalaman, aplikasi dari sepuluh jurus tersebut menjadi tidak terbatas banyaknya, hal ini karena aplikasi dari jurus-jurus cikalong disesuaikan dengan kondisi dan masalah yang dihadapi.

Dalam mempelajari ilmu Cikalongan-Pancer Bumi para murid akan mendapatkan 3 pelajaran pokok ;

-
Mempelajari karakter lawan
- Kekuatan lawan
- Rasa lawan

Yang ketiga inilah yang harus di pelajari dengan serius karena rasa tidaklah sama antara orang yang satu dengan lainnya, termasuk dari nama perguruan Cikalong bisa saja nama namun rasa antara cikalong yang satu dengan lainnya pasti berbeda-beda.

Cikalongan-Pancerbumi didirikan oleh H. Aceng dan Haji Aziz, tidak bertujuan komersil namun masih memegang tradisi yang masih kuat yaitu masih mengacu pada amanah/titipan dalam menurunkan ilmunya kepada orang lain, jadi tidak semua orang dapat mempelajari aliran ini, selain harus beragama Islam dirinya pun harus bisa di percaya untuk memegang amanah perguruan untuk melestarikan ilmu yang dimiliki dengan bijak dan tidak takabur.

Disamping itu orang-orang yang mempelajari Cikalongan tingkat tinggi, pada dirinya bukanlah kesombongan dan berani memamerkan kebolehannya justru malah sebaliknya mereka akan memiliki ‘rasa takut’ lebih dalam terhadap orang lain, dalam arti takut dalam hal yang baik seperti takut menyakiti, takut menyinggung dan takut merugikan orang lain. Maka dari itu banyak manfaat yang dapat di petik dari belajar ilmu Cikalongan selain badan sehat namun mental dan moralpun tidak lah bejat. Hal ini di karenakan dalam tujuannya pembelajaran ilmu Cikalongan-Pancer Bumi yang utama adalah untuk membentuk membentuk suatu karakter atau perilaku yang baik, jujur, sabar serta bertanggung jawab dalam menghadapi masalahnya tanpa merugikan orang lain.

‘Walaupun tidak di pungkiri bahwa manfaat dari beladiri adalah untuk membela diri, akan tetapi disini adalah Membeladiri bukan untuk mencelakai lawan, namun Membeladiri dan menyelamatkan lawan’ itulah moto perguruan Cikalongan-PancerBumi.
**
(Dari hasil wawancara dengan H. Aziz Syar’ie di Padepokan Pencak Silat, TMII-Jkt,9/06/06).

Hormat Saya,
Mas ezra danu lelana
0217235656

Labels:

Thursday, September 14, 2006

Keahlian Menggunakan Senjata dalam Ilmu Beladiri

taken from : Apa gunanya latihan senjata kuno di zaman sekarang?
Posted on Saturday, March 25 @ 11:52:38 WIT by hitokiri


Ini adalah sebuah pertanyaan yang sering di tanyakan oleh kebanyakan seniman beladiri. Penggunaan sebuah senjata memiliki percabangan moral dan legal yang membuat latihan senjata kuno kurang menarik, namun disisi lain masih memiliki daya tarik tersendiri.

Banyak seniman beladiri yang berlatih atau mempelajari senjata hanya murni sebagai olah raga (sport) sebagaimana yang mereka lakukan terhadap bentuk-bentuk beladiri lainnya. Kata (jurus) beladiri senjata, seperti kata beladiri tangan kosong di buat atau di modifikasi agar memberikan daya tarik untuk olah raga (sport) daripada untuk aplikasi praktis atau aplikasi tradisional. Hal ini lebih di dasarkan atas daya tarik estetik atau perasaan yang menimbulkan rasa “wah” dari kebanyakan senjata sebagaimana yang di gambarkan di film-film dan televisi.

Seniman beladiri lainnya membenarkan latihan senjata dengan menyamakan antara senjata tertentu dengan benda-benda umum yang dapat di gunakan sebagai ganti senjata aslinya. Sebagai contoh, menggunakan sapu atau sebatang kayu sebagai gantinya bo atau jo. Hal ini menjadi alasan yang bisa di terima untuk latihan kata (jurus) senjata, tetapi jika memang sebuah sapu atau benda lainnya yang akan di gunakan sebagai senjata, adalah lebih baik jika latihan saja dengan sapu atau benda lainnya.

Apabila kita latihan senjata untuk kepentingan daya tarik estetik dalam sport atau mencari alat pengganti yang praktis untuk senjata aslinya agar peralatan-peralatan modern dapat di gunakan sebagai ganti senjata aslinya, maka kita kehilangan pesan tersembunyi di dalam teknik yang paling mendasar dari latihan senjata. Untuk memahami lebih baik dari pemikiran di balik latihan senjata, kita perlu belajar tidak hanya hal-hal yang spesifik dari senjata tersebut, tetapi keseluruhannya.

Sebuah senjata hanyalah sebuah alat. Di dalam kehidupan kita sehari-hari, kita menggunakan alat untuk meningkatkan fungsi-fungsi manual tertentu. Tulisan artikel ini contohnya. Artikel ini bisa di tulis dengan tulisan tangan, tetapi kualitas, kecepatan dan keakuratan tulisan bisa sangat di tingkatkan dengan penggunaan word processor. Alat-alat yang kita gunakan bisa sangat rumit atau sangat sederhana. Sebuah pengungkit untuk memindahkan batu yang besar adalah alat yang sederhana yang hanya membutuhkan pengetahuan yang sedikit untuk menggunakannya, sedangkan computer adalah alat yang rumit yang membutuhkan pengetahuan yang banyak untuk menggunakannya. Alat-alat bisa meningkatkan efisiensi dan kepraktisan tugas-tugas manual. Tanpa alat-alat pekerjaan kita akan lebih sulit.

Untuk menggunakan alat apa saja, bahkan yang paling sederhana, membutuhkan pengetahuan dasar tertentu yang akan menjadi aksi refleks alam sadar. Menggunakan word processor contohnya, tugas mengetik masuk ke pikiran. Anggap saja kita bisa membaca dan menulis, kata-kata yang muncul di layar monitor dan akhirnya di atas kertas di transfer dari otak ke ujung jari-jari sebagaimana yang di pikirkan. Ini adalah aksi refleks alam sadar. Dengan kata lain, di saat mengetik, jari-jari dapat mencari tombol-tombol yang benar untuk membentuk kata-kata tanpa harus memikirkan letaknya setiap masing-masing tombol, tetapi aksi ini harus di pelajari. Aksi-aksi refleks yang umum seperti berkedip atau bernafas tidak perlu di pelajari, tetapi aksi-aksi refleks alami perlu di pelajari.

Senjata karate pun tidak terkecuali, mereka adalah alat-alat yang sederhana. Tujuannya adalah untuk meningkatkan power, menambah jangkauan dan menyediakan proteksi diri. Senjata tersebut juga menambah dimensi lain dalam latihan. Usaha fisik yang lebih di perlukan dalam memegang senjata, dengan demikian akan meningkatkan kekuatan dan stamina. Karena daya ungkit dan momentum dari ayunan, latihan senjata dapat di anggap sebagai bentuk latihan beban dan gerak badan. Dengan peningkatan dalam kesadaran masyarakat umum akan kesehatan, segala upaya untuk meningkatkan kesehatan akan selalu di sambut dengan baik.

Angkat beban adalah sebuah cara untuk meningkatkan kekuatan dan kegunaan dari tubuh kita sendiri. Beban dapat meningkatkan otot dan kekuatan tetapi hanya bisa sedikit meningkatkan refleks-refleks alami. Bebannya (barbell) di angkat diatas kepala atau di atas dada dalam garis lurus dan meningkatkan otot hanya di satu area saja. Latihan senjata sebagai bentuk latihan beban meningkatkan kekuatan dalam gerakan dan aplikasi, tetapi tidak menambah otot dan kekuatan yang dapat diperoleh dari mengangkat beban “mati”. Latihan senjata menambah dimensi lain dalam gerakan yang di ciptakan saat menggunakan senjata, melatih otot-otot bersamaan dengan melakukan serangan. Hal ini dapat meningkatkan kekuatan di dalam gerakan itu sendiri.

Untuk memahami secara keseluruhan dari latihan senjata, adalah penting untuk juga memahami tujuan kata (jurus). Sebagaimana di jelaskan, kata adalah suatu rangkaian teknik dan langkah kaki di dalam satu set urutan dan pola. Kata juga adalah merupakan suatu cara untuk meningkatkan aksi-aksi refleks alam sadar. Dengan kata lain, kata melatih tubuh, lengan, kaki dan pikiran untuk bereaksi terhadap situasi tanpa harus “berpikir” terlebih dulu terhadap setiap gerakan. Kata meningkatkan aksi-aksi refleks.

Kembali ke contoh mengetik, mereka yang tidak pernah mengetik dan kita yang ingat pengalaman pertama kita tahu bahwa betapa menghabiskan waktu dan sulit untuk mengetik sebuah dokumen yang besar, dengan harus mencari setiap tombol huruf untuk di ketik. Apalagi yang mengetik dengan menggunakan 10 jari. Tetapi saat skill meningkat, sangatlah mungkin sekali untuk mengetahui kesalahan yang di buat bahkan tanpa melihat pada tombol atau kertas. Aksi-aksi refleks dapat di pelajari dan kata (jurus) adalah cara yang di gunakan untuk mempelajari aksi-aksi refleks beladiri.

Mempelajari gerakan senjata dan langkah kaki (footwork) jurus (kata) beladiri senjata dan membandingkannya dengan teknik-teknik beladiri tangan kosong adalah merupakan nilai yang sesungguhnya dari latihan senjata. Sebagaimana di jelaskan di awal bahwa semua kata (jurus) meningkatkan aksi-aksi refleks. Gerakan-gerakan alami kata tangan kosong adalah pararel dengan kata senjata dan perpanjangan gerakan-gerakan dan teknik-teknik bawah sadar di tanamkan ke dalam otak untuk penggunaan di masa depan. Fokus ini tidak hanya menguatkan teknik-teknik senjata tetapi juga menguatkan banyak teknik-teknik tangan kosong yang paralel dengan teknik senjata.

Mereka yang familiar dengan katana mengetahui nilai-nilai latihan pedang. Otot-otot di bagian lengan bawah dan lengan bagian belakang meningkat, bersamaan dengan di ayunkannya katana ke arah bawah. Gerakan atau posisi yang hampir tidak kentara dalam memegang katana saat mengayunkannya meningkatkan kekuatan pada jari-jari telunjuk dan lengan untuk serangan tangan kosong.

Satu alasan terakhir untuk latihan senjata adalah untuk melestarikan nilai-nilai artistik dari cara bertempur kuno. Kita selalu berusaha untuk melestarikan masa lalu dengan meletakkan relik-relik di museum atau melalui koleksi-koleksi benda-benda seni. Usaha yang di keluarkan dalam penggunaan senjata-senjata kuno ini sebagai benda-benda perang juga jangan sampai di lupakan.

Senjata mungkin kurang menarik pada zaman sekarang ini karena kurang praktis dalam penggunaan sehari-hari sebagaimana digunakannya di zaman dulu, tetapi peningkatan teknik-teknik tangan kosong, refleks-refleks dan peningkatan fisik yang di dapat dari latihan senjata adalah lebih dari cukup sebagai alasan untuk latihan senjata. Dengan latihan ini, datanglah perasaan percaya diri, kesehatan dan satu langkah lebih maju dalam penguasaan diri sendiri.

Catatan:

Saat Sekiguchi Sensei di tanya kenapa kita perlu latihan style ilmu pedang samurai kuno sedangkan kita hidup di zaman modern ini, beliau menjelaskan bahwa Yamauchi-ha MJER Iaijutsu di dasari atas respect, beauty dan personal spirit. Melalui latihan yang ketat anda akan belajar respect terhadap kedisiplinan, pedang anda dan orang lain. Anda bisa melihat keindahan (beauty) di dalam bentuk Iaijutsu dan katana. Personal spirit anda akan tumbuh bersamaan dengan saat anda menjumpai kebebasan dan ruang untuk ide-ide anda sendiri didalam aturan-aturan yang mengatur penggunaan pedang. Respect, beauty dan personal spirit harus menjadi sebuah kunci bagian kehidupan seseorang yang hidup di era manapun.

Sekiguchi Sensei menjabat sebagai Presiden dari International Association of Iaido dan Presiden dari Japanese Association of Classical Martial Art Iaido. Di tahun 1995 beliau mendapatkan penghargaan oleh Nihon Budokan, organisasi beladiri terkemuka di Jepang, yang berlokasi di bekas bangunan Castle Edo di Tokyo, karena jasa beliau yang sangat luar biasa dalam melestarikan traditional martial arts.

from www.forumbeladiri.com

Labels:

Monday, August 28, 2006

Pencak Silat masih Hidup Di Jakarta

Oleh: Korano Nicolash LMS

Kita boleh bangga, pencak silat yang menjadi satu-satunya seni bela diri tradisional bangsa Indonesia telah berkembang pesat di negara-negara Eropa bahkan hingga Amerika Serikat. Tetapi bagaimana dengan pembinaan pencak silat di Jakarta dan sekitarnya? Meski tampaknya sepi, ternyata pembinaan itu masih marak.

Bukti bahwa pencak silat masih hidup terlihat ketika Pengurus Pusat Persatuan Pencak Silat (PPS) Putra Betawi mengadakan pertunjukan yang menampilkan berbagai perguruan pencak silat yang ada di wilayah Jakarta dan sekitarnya, Senin (21/8) lalu.

"Pertunjukan kali ini memang sengaja kami lakukan di mal. Sebab selain ingin lebih mendekatkan pencak silat kepada anak-anak muda kita, yang saat ini lebih senang memilih mal sebagai tempat menghilangkan kejenuhan. Juga agar masyarakat tahu kalau pencak silat hingga saat ini masih ada di Jakarta," ujar Sanusi dari Seksi Tradisional PPS Putra Betawi.

Hanya memang, ujar Bang Uci, begitu panggilan Sanusi yang berasal dari Perguruan Pencak Silat Pusaka Jakarta itu, dari 400 aliran yang ada di Jakarta dan sekitarnya, hanya sekitar 23 perguruan saja yang bisa ikut ambil bagian dalam pertunjukan pencak silat yang diorganisasi oleh PPS Putra Betawi.

Secara keseluruhan, pementasan yang berlangsung di Plaza Cibubur, Jakarta Timur, tersebut berlangsung menarik karena cukup banyak pengunjung mal yang berusaha melihat sendiri irama-irama gambang kromong yang ternyata beralih menjadi Gendang Pencak.

Menurut Uci, hanya satu kelemahan utama sekaligus menjadi kunci maju tidaknya pencak silat di Jakarta, yakni masalah kedisiplinan. "Sebab dalam undangan sudah kami ingatkan agar para pengurus perguruan yang ingin ambil bagian segera mendaftarkan diri mulai pukul 07.00 sampai pukul 08.00. Ternyata sampai pukul 18.00 masih ada yang mau mendaftarkan diri."

"Ya, saya sih berharap ke depan, baik itu pengurus, anak-anak kami sendiri, juga harus disiplin sehingga kalau pencak silat ini masih tetap dikenal di penjuru dunia. Kami-kami ini juga bisa sombong karena kedisiplinan orang-orang pencak silatnya," kata Uci, yang kini sudah memasuki usia 74 tahun.
Uci juga menyampaikan rasa syukurnya karena pertunjukan tersebut bisa dilaksanakan di Plaza Cibubur, sekalipun agak jauh dari pusat kota. "Ya, namanya juga gratisan. Kan yang punya mal itu Ketua Umum Persatuan Pencak Silat Putra Betawi Haji Deddy Suryadi."

"Kami hanya berharap kerja sama serupa juga bisa dilakukan dengan mal-mal lainnya dalam rangka terus menghidupkan pencak silat di Jakarta dan sekitarnya," kata Bang Uci. yang pernah menjadi instruktur beberapa film pencak silat layar lebar pada tahun 1960-an hingga tahun 1980-an, mulai dengan film Si Jampang Mencari Naga Hitam.

Kegiatan tersebut mendapat acungan jempol dari Rachmat Gobel, Ketua Harian Pengurus Besar Ikatan Pencak Silat Indonesia (PB IPSI). "Kami sangat menghargai semua upaya yang sudah dilakukan Persatuan Pencak Silat Putra Betawi. Mereka ikut memperkenalkan dan melestarikan pencak silat di dalam negeri," kata Rachmat.

Sebab, tambah Rachmat, yang juga Ketua Harian Persekutuan Pencak Silat Antarabangsa (Persilat), bagaimanapun perkembangan pencak silat di berbagai pelosok mancanegara harus tetap didukung oleh perkembangan pencak silat di negara asalnya, Indonesia.

"Makanya, saya juga berharap kita tidak hanya mempertahankan keberadaan pencak silat, tetapi juga harus mampu mengembangkan pencak silat di negeri sendiri. Entah itu dengan menambah jurus-jurus wajib baru atau dengan menetapkan peraturan baru yang mampu menjadikan setiap pertandingan menjadi lebih fair," ujar Rachmat Gobel.

Di samping itu, kata Rachmat, Persatuan Pencak Silat Putra Betawi perlu menghidupkan kembali beberapa agenda pertandingan yang sebelumnya pernah ada. Agar para pesilat di Jakarta mempunyai tujuan setelah berlatih di perguruan masing-masing. "Sebab, dulu saya masih ingat pencak silat DKI Jakarta dan sekitarnya ini memiliki turnamen dalam rangka memperebutkan Piala Kepala Kepolisian Metro Jaya atau Piala Panglima Komando Daerah Militer Jakarta Raya," ujarnya.

Deddy Suryadi bersama pengurus PPS Putra Betawi memang langsung berpikir cepat. "Kami sendiri sebenarnya tengah membicarakan bentuk kejuaraan apa yang akan dilaksanakan setiap tahunnya. Apa memang harus mengacu kepada peraturan PB IPSI atau cukup dengan peraturan PPS Putra Betawi, yang memang jarang dilaksanakan," katanya.

Tentu ada plus-minusnya. Sebab kalau tidak mengikuti peraturan PB IPSI, ada kemungkinan akan terjadi keributan dalam kejuaraan yang akan diadakan PPS Putra Betawi itu.

"Tetapi, kalau hanya mengikuti peraturan PB IPSI, event tersebut tidak akan menarik lagi karena pertandingan PB IPSI itu kan sudah biasa. Untuk itulah, saat ini kami masih terus membahas bersama teman-teman di PPS Putra Betawi," ujar Deddy.

"Sebenarnya," tambah Tubagus Bambang Sudrajat dari Perguruan Pencak Silat Cingkrik Goning, "Jangankan kejuaraan tetap, untuk tampil di mal seperti yang dilakukan PPS Putra Betawi sekarang ini saja sudah istimewa bagi kami. Jelas akan lebih baik lagi kalau PPS Putra Betawi mau membuat turnamen tetap dengan jadwal yang tetap pula. Waktunya silakan tentukan sendiri."

Sungguh banyak aliran pencak silat yang ada di Jakarta dan sekitarnya, sekalipun kemudian hanya beberapa perguruan pencak silat saja yang ambil bagian dalam pertunjukan tersebut. Sebut saja, seperti Perguruan Pencak Silat Mustika Kwitang, Sikak Mas Jatayu; Tiga Berantai, yang merupakan Perguruan Pencak Silat Ketua Umum PPS Putra Betawi Deddy Suryadi; Syahbandar, Pusaka Jakarta, Permata Sakti, Kancing 7 Bintang 12, Sin Lam Ba, Sutera Baja, Bakti Tama dan Perguruan Pencak Silat Cingkrik Goning yang berpusat di Kedoya, Jakarta Barat.

Perguruan tua

Hampir sebagian besar dari perguruan di atas merupakan perguruan tua. Lihat saja seperti Perguruan Pencak Silat Sikak Mas Jatayu yang didirikan tahun 1957. Sejak bergabung dalam PB IPSI pada tahun 1978 sudah banyak pesilat yang didadar.

Selain di wilayah Jakarta, perguruan ini juga diminta jajaran kepolisian untuk memberikan bekal bagi para calon pimpinan kepolisian yang tengah menyelesaikan pelajarannya di Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK), sejak tahun 1973 hingga 1978.

Lain lagi dengan Perguruan Pencak Silat Cingkrik Goning, yang kini ditangani Tubagus Bambang Sudrajat (52). Sejak dikembangkan, Goning, perguruan silat yang lebih mengutamakan lompatan (cingkrik), itu sudah memiliki lebih dari 12 cabang di lima wilayah DKI Jakarta.

"Perguruan kami ini masih memiliki hubungan dengan Cimande karena memang asalnya dari daerah Banten," kata Bang Ajat, begitu panggilan akrab Tubagus Bambang Sudrajat.

Mau yang lebih tua lagi juga ada, yakni Perguruan Pencak Silat Kancing 7 Bintang 12 yang sejatinya ilmunya dari daerah Cabang Bungin, Karawang, dekat Rengas Dengklok. "Ilmu perguruan ini di bawa Pak Sulaiman ke Jakarta yang tinggal di Petojo, pada tahun 1832," tutur Mansyur Sakban (61), yang membuka cabang di Depok.

Ilmu Kancing 7 Bintang 12 yang permainannya lebih menyerupai gerakan kera itu diajarkan kepada Hanafi yang tinggal di Kwitang. Saat Hanafi meninggal pada tahun 1960, ilmu tersebut sudah diturunkan kepada Zakaria putra Hanafi. "Sekarang ini ilmu pencak Kancing 7 Bintang 12 ini sudah menyebar ke berbagai wilayah termasuk beberapa kota di luar Jakarta. Seperti di Bogor, maupun Tasikmalaya," kata Mansyur, murid Zakaria.
Berkembangnya pencak silat di Jakarta sungguh menggembirakan. Semua pesilat asing akan kembali ke Indonesia untuk mencari akar ilmu yang mereka pelajari di negeri asalnya.
http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0608/25/or/2903081.htm

Jadi Penjaring Wisatawan

Perkembangan seni ilmu bela diri tradisional bangsa kita, pencak silat, ke berbagai pelosok mancanegara sudah menjadi cerita lama. Buktinya sudah cukup banyak. Salah satunya dengan kedatangan pesilat-pesilat asing yang setiap tahun bisa mencapai ratusan orang ke Indonesia.
Mereka bahkan tak jarang datang langsung ke pusat perguruan-perguruan induk mereka. Seperti Perguruan Pencak Silat Persaudaraan Setia Hati di Madiun, Tapak Suci di Yogyakarta, Bakti Negara di Bali, atau ke Perguruan Pencak Silat Keluarga Pencak Silat Nusantara dan Putra Betawi yang berada di Jakarta.

Pedepokan Pencak Silat Indonesia yang terletak dekat Kompleks Taman Mini Indonesia Indah, di wilayah Jakarta Timur, juga menjadi salah satu tujuan utama bagi para pesilat asing yang ingin memperdalam ilmu mereka. "Setiap tahunnya bisa mencapai ratusan pesilat," ujar Rustadi Effendi, Kepala Pedepokan Pencak Silat Indonesia.

Dan memang, lanjut Rustadi yang juga Wakil Ketua Harian Persekutuan Pencak Silat Antarabangsa (Persilat) itu, tidak jarang para pesilat asing itu kalau datang ke Jakarta bersama keluarga mereka. "Kadang ada juga yang datang membawa rekan-rekan mereka."

Beruntung memang bagi perguruan pencak silat yang sudah memiliki pedepokan mereka sendiri. Lihat saja seperti Pedepokan Pencak Silat Pamor yang terletak di daerah Pasar Minggu. Pedepokan tersebut secara tidak langsung juga menjadi tempat tujuan para pesilat asing dari Perguruan Pamor.

Banyaknya pesilat asing yang berada di luar negeri membuat Perguruan Pencak Silat Pamor yang berasal dari Madura itu membuat pedepokannya di Jakarta. "Memang dengan begitu kami bisa lebih terbantu. Sebab kami tidak perlu mencari penginapan yang tentu harganya jauh lebih mahal kalau dibandingkan bisa menginap di pedepokan sendiri," tutur Tonjes Phinodiald, guru Perguruan Pencak Silat Pamor Eindhoven, Belanda, yang belum lama ini datang ke Indonesia untuk mengisi liburan musim panas.

Pariwisata

Pengembangan ilmu seni bela diri tradisional Indonesia ini sebenarnya bisa dipadukan dengan pariwisata kita yang tidak akan pernah habis. Karena ini merupakan bagian dari tradisi, maka bisa masuk ke dalam wisata budaya dalam kota.

Hanya memang syarat utamanya, perguruan bersangkutan harus sudah memiliki pedepokan sendiri sehingga kelak bisa dimasukkan ke dalam rencana wisata kota Jakarta misalnya. Apabila hal ini tercapai, tentu sekali dayung satu dua pulau terlampaui.

Selain bangsa Indonesia bisa melestarikan budaya Betawi atau Bali, misalnya, kegiatan itu juga dapat menjadi titik penyebaran pencak silat yang memang hingga saat ini Persilat masih terus berupaya agar seni bela diri bangsa Indonesia ini bisa menjadi salah satu cabang yang resmi dipertandingkan di Asian Games.

Bahkan, jika perkembangannya terus menunjukkan peningkatan, bukan tidak mungkin kelak pencak silat akan menjadi salah satu cabang yang dipertandingkan di Olimpiade.

Persatuan Pencak Silat Putra Betawi tentu mempunyai kesempatan untuk menjadi pusat dari 400 aliran pencak silat yang bernaung di bawahnya. Apalagi menurut Sanusi dari Seksi Tradisional PPS Putra Betawi, salah satu anggota PPS Putra Betawi memang sudah membicarakan untuk kemungkinan mendirikan pedepokan sendiri.

"Dengan mempunyai pedepokan sendiri, bukan hanya akan menjadi pusat berlatih atau pengembangan semata, tetapi juga dapat menjadi tempat untuk melaksanakan kejuaraan-kejuaraan, termasuk festival pencak silat Betawi yang akan menjadi tontonan menarik warga Jakarta dan sekitarnya," tutur Bang Uci, begitu panggilan akrab Sanusi, yang berasal dari Perguruan Pencak Silat Pusaka Jakarta.

Benahi transportasi

Namun, ada satu masalah yang sungguh kompleks, yakni transportasi kota Jakarta. Transportasi di ibu kota negara ini berbeda dengan transportasi di kota-kota besar di Asia Tenggara atau di Eropa yang sudah memiliki sistem transportasi yang baik, bahkan bisa dikatakan nyaman.

Di Jakarta pihak swasta dan pemerintah daerahnya tidak berjalan seiring. Entah itu karena tawaran swasta yang tidak memberikan prospek kepada pemerintahnya atau karena pemerintah tidak mau permainannya diketahui swasta.

Yang jelas, sampai saat ini monorel mungkin akan tinggal cerita, sementara proyek busway sudah merusak dan mempersempit ruang hijau Jakarta. Kalau begitu, apa yang bisa diharapkan dari perubahan signifikan pada transportasi di wilayah Jakarta.

Melihat hal tersebut, rasanya tidak salah kalau Ketua Umum Persilat Eddy Marzuki Nalapraya merasa perjalanannya menjaga keramat bangsa ini ditinggalkan pemerintah. (NIC)

Labels:

Apakah Pencak Silat Menuju Titik Jenuh

Krisis ekonomi memang tidak secara langsung membuat kegiatan olahraga ditanah air sedikit menyurut, namun dampaknya sangat terasa disegala sector kehidupan termasuk olahraga pencak silat. Sesungguhnya tidak hanya pencak silat saja yang mengalami penurunan kuantitas kegiatan maupun peminatnya, olahraga beladiri lainpun mengalami hal yang sama.

Krisis ekonomi sebenarnya tidak ada hubungan relevansi yang khusus terhadap minat masyarakat dalam berolahraga, karena olahraga adalah salah satu kebutuhan manusia dalam memenuhi tingkat derajat kesehatannya, dan kecendrungan inilah masyarakat pada umumnya mencari alternative olahraga yang ekonomis dan tidak membutuhkan ikatan waktu yang khusus.

Olahraga beladiri saat ini dinilai bukan sebagai olahraga yang ekonomis malah terkesan serius dan membuang-buang waktu. Berbeda dengan olahraga rekreasi yang tetap diminati oleh semua lapisan masyarakat, karena sifatnya yang fleksibel tadi menyebabkan olahraga ini sangat cocok begi mereka untuk memenuhi kebutuhan dalam sarana berolahraga, bahkan olahraga rekreasi dapat dikombinasikan dengan olahraga wisata yang tentunya akan semakin menarik, contohnya bersepeda atau jongging yang dapat dilakukan kapan saja, dimana saja, olahraga ini bisa dilakukan di jalanraya atau sambil rekreasi di daerah pegunungan yang sejuk.

Perlu diakui bahwa olahraga beladiri memang belum bisa memberikan kenikmatan sebagai olahraga rekreasi karena sifatnya lebih khusus dan baku, sebagai contohnya membutuhkan tempat dan waktu yang khusus untuk menghindari cidera dibutuhkan lokasi latihan yang luas dan terikat pada waktu latihan yang khusus karena biasanya olahraga beladiri dibutuhkan kelompok maupun seorang pelatih yang memberikan materi khusus kepada murid-muridnya, walaupun demikian tidak ada larangan bagi yang melakukannya sendiri baik di rumah bersama keluarga walaupun hal ini jarang terjadi.

Faktor yang dijelaskan diatas hanya sebagian kecil kendala yang dihadapai oleh masyarakat dalam memenuhi kebutuhannya dalam hal berolahraga beladiri karena factor ekternal lainnya masih cukup banyak. Terlepas dari krisis ekonomi yang melanda Indonesia hingga saat ini.

Membangun CitraSering sudah dalam setiap diskusi ataupun dalam tulisan sebuah buku yang menyatakan bahwa “Pencak silat adalah Budaya bangsa yang harus dilestarikan keberdaannya sebagai jati diri bangsa”. Yang kenyataanya masyarakat seolah tidak peduli dengan selogan-selogan tersebut, pertanyaan selanjutnya adalah apakah penyebab masyarakat kurang menghargai budaya bangsa sendiri. Tentunya hal seperti ini harus mendapatkan jawaban yang realistis bila perlu diadakan penelitian terutama dimasyarakat umum.

Sebelum terjawab oleh data penelitian yang rumit sebenarnya kita semua sudah mengetahui jawaban yang umum dan bahkan tidak asing lagi ditelinga kita yaitu citra atau image “kampungan”,citra inilah yang selalu setia melekat di masyarakat pada umumnya. Dan usaha merubah citra ini memang sangat sulit bahkan rumusan dan strategi apa lagi yang harus dicari untuk meluruskan makna “kampungan” menjadi makna kampungan yang bergengsi.

Image Pencak silat yang tak kalah populernya adalah ketertutupan, keterasingan dan sejenisnya tampaknya sudah menjadi sangat klise di Indonesia, setiap kali orang membicarakan pencak silat dibumi persada ini. Kita patut prihatin dan menuding beberapa variable yang menyebabkan masyarakat lesu darah, jenuh atau malah alergi terhadap pencak silat.

Pencak silat yang berkembang di Indonesia saat ini, sebetulnya sangat beragam sebagai contohnya saja, silat olahraga, silat beladiri, silat tenaga dalam hingga silat yang bercampur aduk dengan ilmu-ilmu lainnya, pilihan ini seharusnya membuat masyarakat memiliki satu pilihan tepat, terkadang masyarakat terlalu naïf menilai seluruh silat adalah sama tidak ada bedanya, presepsi dan cara menilai mereka adalah wajar, karena masyarakat mendapatkan informasi mengenai keunikan silat dari satu sisi yang sering dipublikasikan oleh media, yang terkadang agak berlebihan dan mengeneralisasikan seluruh pencak silat yang ada di bumi Persada ini.

Pencak silat sebagus apapun, bila tidak dipublikasikan secara benar dan baik akan menghasilkan image yang menjenuhkan, orang awam pun dapat menilai dengan mudah setiap ada atraksi pencak silat pasti disana ada unsur-unsur magis mewarnainya, sesungguhnya unsur magis hanya tambahan bahkan hanya sebagian kecil untuk diandalkan untuk beladiri maupun dalam berolahraga prestasi, dan itulah pentingnya peranan media dalam menentukan presepsi public.

Agaknya masalah pencak silat di Indonesia yang berhubungan masalah sosialisasi tidaklah sesederhana itu, dibutuhkan peranan para intelektual, mahasiswa, pakar, pengusaha, penguasa, simpatisan, pemerhati, hingga kritikus dalam memberikan wacana, dan realisasi yang matang. Sumber daya Manusia adalah jawaban yang mutlak agar masyarakat memiliki refensi dan pola dalam memperoleh informasi dan pengetahuan. Karenanya sosialisasi mengenai olahraga beladiri pencak silat merupakan proses yang menyeluruh dalam proses internalisasi kedalam pemikiran masyarakat, yang harus digeledah adalah kebutuhan olahraga beladiri seperti apa yang menjadi daya tarik mereka, apakah “murni olahraga, beladiri atau olahraga sebagai hiburan untuk menyalurkan hobi.

Menjadikan Pencak Silat sebagai hobi adalah pemikiran yang realistis saat ini, karena akan terbentuk kandungan kesenangan yang tidak dapat dinilai, dan tidak mengubah keaslian dan kehilangan coraknya, sosialisasi pencak silat menjadi olahraga hobi seperti halnya tinju atau sepak bola membutuhkan media yang tepat dan terbuka, dan factor social, kondisi ekonomi dimasyarakat menjadi tolak ukur dalam mensukseskan gerakan massal dalam memperkenalkan pencak silat yang sesungguhnya.

Namun bila kejenuhan masyarakat belum bisa terobati, tampaknya jalan apapun kalau sifatnya hanya elementer atau gradual tidaklah berarti bahkan sia-sia, bila sudah sedemikian resistennya “kejenuhan “itu apakah dipelukan pengobatan yang membutuhkan operasi besar-besaran atau lebik ekstrem lagi dengan cara-cara radikal yang mendasar yaitu biarkan pencak silat terasing, barangkali justru dari keterasingannya itulah pencak silat mampu membentuk dimensi yang baru dan unik dengan image yang mampu menemukan audiensnya secara selektif. Sejarah telah mengajarkan pada kita bahwa ide-ide besar terlahir dari keterasingan, bahkan ada istilah “kecil itu indah”.

Yanweka
Anggota Forum Pelestari dan Pecinta Pencak Silat Indonesia

Labels:

Monday, August 21, 2006

Para Pendekar Berlaga Dalam Festival SIlat Betawi 2006

Jakarta(21/08/2006). Tepatnnya hari ini, kabar yang sempat di siarkan 2 bulan lalu benar-benar terealisasi, bertempat di Plaza Cibubur-JakartaTimur. Berbagai jurus dan langkah dari berbagai aliran beladiri Betawi di peragakan, unik, cantik, indah, ganas, memukau dan berbahaya berhasil di peragakan oleh pendekar maupun pesilat Batavia dalam festival silat Betawi.

Menurut Ketua Panitia (Sdr. Rahmat) dalam PPS Putra Betawi punya gawe yang kali ini, kurang lebih ada 20 perguruan silat Betawi yang diundang untuk tampil dalam acara ini.

Disamping tujuan utamanya untuk mendokumntasikan pencak silat Betawi yang mulai tenggelam, event ini juga tidak lain di selenggarakan untuk saling mempererat tali silaturahmi dan persahabatan pesilat Betawi khususnya dan warga Betawi pada umumnya.Ternyata, pertunjukan yang di adakan seharian ini cukup membawa kesan bagi orang-orag yang sempat datang menyaksikannya, cukup patut untuk yang di jadikan teladan bagi kita. Bahwasanya, tidak hanya pria saja yang pantas menyandang predikat pesilat, wanitapun dapat menyandang gelar yang sama.

Pasalnya, benar tidak hanya pria kekar dan berotot saja yang tampil memperagakan kebolehannya, tapi ibu-ibu juga turut ambil bagian di sana dalam memperagakan gerak pencak dengan gemulai, penuh makna, dan berbahaya yakni gerak silat yang terus di lestarikan secara turun temurun di kalangan masyarakat betawi.Ingat wanita betawi seperti mereka tidak boleh di pandang sebelah mata tentunya.
***

Lain hal cerita para pendekar dewasa, serta para pesilat remaja. Menyinggung metode pengajaran dan pelatihan pencak silat Betawi (mainan, red) tidaklah semuanya tertinggal, dilihat dari keikut sertaannya para pesilat anak-anak (pesilat kecil,red) disana, serasa mengajak kita untuk sama-sama membuka mata lebar-lebar. Bahwasanya, para pendekar Betawi dewasa yang mahir dan pilih tanding yang tampil dan kita lihat sekarang ini, tidaklah terlahir melalui proses instant, melainkan telah di mulainya pelatihan dan pendidikan pencak silat sejak dini pada anak-anak pra-remaja. Tidaklah cukup apabila hanya mengandalkan kursus-kursus kilat pada beberapa guru yang hebat, seandainya bisa pastilah tidak terlalu maksimal hasilnya.

Pengajaran pencak silat pada anak sejak dini pada anak-anak, tidaklah mengakibatkan resiko-resiko yang berlebih yang kita takutkan. Justru, hal ini seharusnya sangatlah mendukung perkembangan, serta pembentukan fisik, dan mental juga otak yang kuat. Timbulnya mental yang berani pada mereka diartikan berani dalam berinteraksi dengan orang yang lebih dewasa di lingkungan rumah tempat dia di bina, tapi berani juga pada saat di dalam kelas si anak juga di harap menjadi siswa yang menonjol dan aktiv saat mengikuti pelajaran sekolahnya.

Sebagai contoh; saat mewawancarai Adik Alfian (3th, siswa SDI Muslimin-Jkt) sebagai salah satu pesilat anak-anak pada acara ini, dengan nada tenang dan bersahabat pada saya selaku orang asing baginya, dia menjawab semua pertanyaan dari saya tentangnya. Terus terang saya kagum, betul-betul berani anak ini, dan saya yakin betul dia pasti cerdas. Tebakan Saya tentunya terbukti benar , saat dia ikut pentas dalam peragaan pencak silat mewakili “Putra Betawi ” dengan peragaan merobohkan pesilat dewasa.

Sungguh spektakuler dan benar-benar memukau pemirsa pengunjung mal di kawasan Cibubur yang dingin, dengan di tandai pemukulan “Gong pusaka” oleh Bp. Edy Nalapraya (Persilat), sebelum peragaan jurus di mulai. Event yang diadakan dalam rangka turut memeriahkan suasana semangat peringatan HUT RI Ke-61 ini mengambil tema,

“Dalam Rangka Hut RI Ke-61, Bersama Kita Bangkitkan Pencak Silat Putra Betawi Sebagai Warisan Leluhur Kita”.

Diakhir acara di tutup dengan peragaan permainan golok dan toya oleh Bp. H. Zakaria, tetap dapat bersilat mengagumkan dengan penghayatan gerak dan fleksibelitas tinggi, dalam usianya yang usur dapat tampil dengan sempurna, mengeluarkan seluruh tenaganya dari setiap gerakan diriingi dengan kecepatan dan tenaga ledak yang tinggi, dan tidak lama setelah itu acara ditutup secara resmi dengan doa oleh Bp. Sanusi, menandakan hari itu acara usai dan bersyukur telah terlaksana tanpa halangan yang berarti.(By Mas ezra)

Labels: